Marketing San Diego Hills Diary: Akhir Tahun Tetap Melayani

Marketing San Diego Hills Diary. Sebentar lagi kita akan meninggalkan Tahun 2014 dan menyongsong Tahun Baru 2015 Masehi. Banyak keluarga yang saat ini sudah berlibur mengunjungi pelosok negeri yang indah dan bersejarah. Baik di dalam negeri maupun di luar. Yetty senang deh bisa melihat sahabat-sahabat Yetty tengah berlibur bersama keluarga, menikmati kebersamaan dalam kesukaan, dan sebagainya, yang banyak diunggah di media sosial seperti facebook, twiter, instagram, path, atau pinterest. Yetty ucapkan Selamat ya, semoga liburan akhir tahun kali ini sungguh-sungguh menyenangkan. Namun Yetty tahun ini tidak sempat menikmati liburan. Sampai tahun baru 2015 pun Yetty harus tetap bertugas. Sebagai Marketing San Diego Hills, Yetty harus berbagi kesenangan dengan teman-teman sesama FSC (Family Service Counselor) yang lain. Sebagai FSC kita memang bergantian untuk bisa libur akhir tahun. Dan tahun ini Yetty harus tetap stand-by di San Diego Hills Karawang untuk tetap bisa membantu dan melakukan pelayan yang maksimal kepada semua Customer San Diego Hills Karawang. Dan seperti biasa, jika Bapak dan Ibu ingin ke San Diego Hills akhir tahun ini atau di tahun baru 2015, silakan kontak Official Marketing – YETTY di 082167373388. Atau bisa juga berkirim email terlebih dahulu di yettysandiego@gmail.com. Yetty selalu siap membantu Bapak dan Ibu setiap waktu....

Marketing Sandiego Hills Diary 15: Pelopor Selalu Unggul

Sebagai Marketing Sandiego Hills, Yetty tiap hari selalu bertemu orang-orang baru yang setidaknya memerlukan informasi atau ingin membeli lahan pemakaman. Tapi tidak kali ini. Di suatu siang, Yetty melaju menuju satu hotel di selatan Jakarta. Seorang pengusaha muda yang sangat sukses, dia memiliki sekurangnya satu tower, satu hotel berbintang, dan satu pusat perbelanjaan mewah di daerah emas Jakarta. Walau sangat sukses tapi pengusaha ini jauh dari kesan sombong, bahkan sangat humble. Yetty kenal dengannya karena dia sahabat suami. Siang itu Yetty sudah janjian lunch di salah satu resto yang berada di lantai dasar hotel miliknya. Singkat kata Yetty bertemu dengannya di lokasi yang sudah disepakati. Kami berbincang santai dan ringan. Bahkan kami sering tertawa-tawa dengan joke-joke yang dia lontarkan. Walau obrolan ringan, namun kalimat-kalimatnya sangat bernas. Yetty banyak belajar dari dia. Salah satunya tentang kelebihan positioning sebagai pelopor di dalam bisnis. “Mbak Yetty..,” demikian dia berkata. “…Saya salut kepada Pak Mochtar Ryadi. Dia berani berbisnis lahan makam dengan investasi yang besar di saat orang-orang belum berani memikirkannya. Sandiego Hills pelopor dalam bisnis pelayanan ini…” “Bisnis pelayanan?” “Ya. Walau Sandiego Hills itu sebuah bisnis, namun dia tetap harus mengutamakan pelayanan kepada Customernya. Bahkan pelayanan itu yang harus diutamakan karena disitulah letak salah satu kekuatannya. Dan sebagai seroang Marketing Sandiego Hills, Mbak Yetty pasti mengetahui hal itu…” Yetty tertawa dan mengiyakan pandangannya. Sahabat Yetty yang satu ini memang benar, karena di keseharian, walau awalnya hubungan Yetty dengan para Customer dilandasi urusan bisnis, namun semua itu dijalani dengan suatu hubungan yang bersifat familiar sehingga batas antara bisnis dengan pelayanan menjadi kabur. Tapi Yetty melakukan semua itu dengan enjoy. Tanpa terasa dua jam...

Marketing San Diego Hills Diary 14: Tetangga Abadi

Marketing San Diego Hills sering kali menemui hal-hal yang di luar nalar seorang manusia biasa. Banyak sekali kejadian-kejadian aneh yang Yetty alami ketika bertugas di Taman Pemakaman Sandiegohills yang terletak di Karawang Barat ini. Salah satunya terjadi kemarin, ketika Yetty menangani At-Need pemakaman Kristen di Crown Mansion. Hari Minggu (7/12), Yetty mendapat telpon untuk bertugas melayani upacara pemakaman dari salah satu yayasan kedukaan di Jakarta yang mengabarkan pemakaman akan dilakukan pada hari Senin (8/12). Sesuai dengan tahapan prosedur Yetty meminta data-data yang diperlukan. Ternyata lahan yang akan dipergunakan belum fixed. Yayasan kedukaan itu memiliki beberapa lahan di San Diego Hills dan biasanya dipergunakan ketika ada yang memerlukan. Akhirnya yayasan kedukaan itu pun menetapkan lahan yang akan dipakai lewat peta lahan dan pihak keluarga menyetujuinya. Keesokan harinya, Yetty pun seperti biasa mengatur dan memimpin acara pemakaman. Acara berjalan dengan lancar dan khidmat. Setelah selesai, seperti biasa Yetty mempersilakan anggota keluarga dan keluarga besar serta semua yang ikut dalam upacara tersebut ke Marketing Gallery. Namun ketika itu salah seorang anggota keluarga yang kedukaan secara tidak sengaja melihat sebuah nisan yang ada di sebelah makam yang baru saja dipakai. Dia kaget. Yetty tidak mengerti kenapa dia bisa seperti itu. Akhirnya sambil berdiri di antara dua makam, satu makam yang baru dipakai dan satunya lagi makam yang sudah lama dipergunakan, dia bercerita jika makam di sebelahnya itu adalah makam tetangga rumah mereka yang sudah lama tidak bertemu. “Mbak Yetty, ini makam tetangga kami. Dia bersahabat sejak kecil dengan almarhum Ibu kami. Dia tetangga almarhum ibu Kami sejak kecil. Dan setelah besar, bertahun-tahun, ibu kehilangan jejaknya. Tidak disangka di sini ibu bisa bertetangga lagi...

Marketing Sandiego Hills Diary 13: Persiapkan Kematian Dengan Sempurna

Marketing Sandiego Hills memang selalu berhubungan dengan kedukaan. Walau semua manusia telah mengetahui jika kematian itu sesuatu yang pasti datangnya, namun kebanyakan dari kita memang tidak pernah atau terlambat untuk mempersiapkannya. Bagi diri pribadi, persiapan untuk menghadapi kematian yang indah adalah dengan menjalani hidup dengan penuh berkat terhadap sesama dan menjauhi segala hal yang membuat berkat tersebut sirna. Namun itu belum cukup, karena setelah kita meninggal, jika tidak dipersiapkan dengan baik dan secara keseluruhan, maka meninggalnya kita akan merepotkan anggota keluarga terkasih seperti isteri, suami, anak-anak, cucu, dan yang lainnya. Kita tentu tidak mau merepotkan seperti itu bukan? Nah, agar kelak tidak merepotkan siapa pun, kita sebaiknya juga telah menyiapkan lahan pemakaman kita sendiri sedini mungkin. Dengan telah memiliki lahan pemakaman sedini mungkin, kita dapat memilih sendiri di mana jasad kita kelak akan dikuburkan, kita dapat menentukan sendiri seperti apa makam kita nantinya bakal dibangun dan sebagainya. Sebab itulah, hal yang dulunya dianggap tabu ini, sekarang secara pelan-pelan sudah mulai diterima oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Jika di dalam hidup kita, kita telah berganti-ganti rumah, membeli rumah di sana sini, atau membeli mobil ini dan itu, maka sudahkah kita membeli satu lahan kecil untuk nantinya ditempati jasad kita sendiri kelak? Dan bagi anak-anak yang ingin memberikan tempat yang baik bagi oranguanya jika kelak sudah meninggal dunia, tidak ada salahnya membeli lahan di Sandiego Hills. Lahan Makam yang indah merupakan hadiah dan tanda bakti seorang anak kepada orangtuanya yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh cinta kasih dan pengorbanan. Mengapakah kita tidak terpikir untuk berbakti kepada orangtua kita sendiri dengan membelikan lahan makam yang indah di Sandiego Hills? Untuk itulah Taman...

Marketing Sandiego Hills Diary 12: Damai Bersamamu Bu Endang…

Marketing Sandiego Hills bisa datang kapan saja ke lahan pemakaman. Bisa subuh, siang, bahkan tengah malam sekali pun. Pelayanan kepada Customer atas lahan makamnya di San Diego Hills bisa dilakukan kapan saja, tanpa mengenal waktu atau jam. Awal Desember ini Yetty datang pagi-pagi sebelum matahari naik menyinari seluruh perbukitan kawasan makam. Yetty berkeliling kawasan pemakaman dan menyengaja menengok sebuah makam sederhana yang di dalamnya memeluk hangat seorang putera terbaik bangsa ini: dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DR.PH. Bu Endang, demikian kami dulu biasa memanggilnya, merupakan Menteri Kesehatan dalam Kabinet kedua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Perjalanan karir perempuan lulusan Harvard School Of Public Health menuju kursi Menteri Kesehatan termasuk panjang dan penuh kejutan. Dari seorang pejabat eselon II di jajaran Depkes RI, tiba-tiba namanya melejit menjadi seorang menteri. Bu Endang dilantik sebagai Menkes pada 22 Oktober 2009. Ibu yang lahir di Jakarta, 1 Februari 1955, ini setamat FK-UI di tahun 1979, mengawali karier sebagai dokter umum di Puskesmas Waipare NTT. Siapa sangka dokter Endang yang rendah hati ini bisa dipercaya memegang jabatan Menteri Kesehatan di kemudian hari. Di puncak kariernya, penyakit menggerogoti dirinya. Namun Bu Endang tetap tegar dan tabah. Namun ajal tak dapat ditolak. Sang Khalik memanggilnya pada hari Rabu, 2 April 2012, pukul 11.41 WIB. Itulah maut, saat batas kehidupan manusia telah berakhir. Saat manusia harus meninggalkan segala asesoris dunia karena harus menempuh perjalanan ke alam lain. Salah satu pesan terakhirnya kepada salah satu anaknya, Awandha Raspatih Mamahit, yang tengah bersekolah di Universitas Webster, Jenewa, adalah: “Jangan menangis, jangan sedih, serahkan semua kepada Allah; Jangan pernah berhenti untuk menantang keberanian.” Pesan ini ditulis Bu Endang kepada puteranya disaat...

Marketing Sandiegohills Diary 11: Kenangan Tahun Pertama

Menjadi seorang Marketing Sandiegohills Memorial Park yang setiap hari selalu berada di Site-Office di Karawang Barat nyaris tidak pernah terbayangkan oleh Yetty sebelumnya. Ketika bergabung secara resmi menjadi Official-Marketing di Site-Office Sandiegohills beberapa tahun lalu, Yetty masih bertanya-tanya pada diri sendiri, “Sanggupkah Yetty memasarkan kuburan pada orang-orang?” Yetty berpikir keras dan bertanya-tanya bagaimana cara dan strategi memasarkan lahan kuburan yang oleh banyak orang di Indonesia dianggap sesuatu yang masih baru, bahkan ada yang menganggap tabu membeli lahan kuburan sebelum ada kedukaan. Yetty akhirnya berusaha menggali kiat-kiat marketing yang tidak biasa ini dari berbagai sumber. Ada yang dari diskusi ringan dengan sejumlah sahabat, ada dari brosur dan buku, dan ada pula dari teman-teman sesama marketing yang Yetty kenal. Yetty mengamati mereka dalam memasarkan produk kepada calon Customer. Walau demikian, Yetty masih ragu, apakah Yetty bisa menjual lahan kuburan sama seperti mereka? Napoleon pernah berkata jika yang menyerah sebelum bertempur itu adalah orang gila. Dan Norman Vincet V Peale juga berkata jika pendakian gunung yang paling tinggi sekali pun selalu dimulai dari satu langkah kecil. Maka walau masih dilanda kegalauan dan perasaan sangsi, Yetty akhirnya memulai langkah kecil itu. Yetty mulai mengabarkan kepada sahabat-sahabat Yetty yang sudah ada jika Yetty sekarang bekerja sebagai Marketing di Sandiegohills Karawang. Yetty mengumumkan jika di atara mereka atau keluarga besar mereka ada yang butuh lahan pemakaman silakan kontak Yetty. Selain itu Yetty juga mulai menyebar brosur ke berbagai lokasi yang Yetty anggap potensial. Semua cara Yetty lakukan agar bisa mendapatkan Costumer. Istilahnya, “Pecah telor”. Tentu saja, semua upaya itu juga dibarengi dengan doa kepada Tuhan agar Tuhan meridhoi usaha Yetty ini dan membukakan pintu rezeki-Nya...

Warning: curl_setopt(): CURLOPT_FOLLOWLOCATION cannot be activated when an open_basedir is set in /home/mar10000/public_html/wp-content/plugins/goingup-web-analytics/goingup-web-analytics.php on line 38